Selasa, 07 Februari 2017

Pengertian, Macam, Penyebab, Penanganan, Pencegahan dan Terapi Shock/Syok

Pengertian

Syok merupakan kondisi medis yang mengancam nyawa, yang terjadi ketika tubuh tidak mendapat cukup aliran darah sehingga tidak tercukupinya kebutuhan aerobik seluler atau tidak tercukupinya oksigen untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh sehingga dapat menyebabkan hipoperfusi jarngan secara global dan menyebabkan asidosis metabolik.

Keadaan ini membutuhkan penanganan yang cepat karena dapet berkembang/memburuk dengan cepat.
MACAM-MACAM SHOCK
  • Syok Hipovolemik (disebabkan oleh kehilagan cairan/darah)
  • Syok Kardiogenik (disebabkan oleh masalah pada jantung)
  • Syok Anafilaktik (disebabkan oleh reaksi alergi)
  • Syok Septik (disebabkan oleh infeksi)
  • Syok Neurogenik (disebabkan oleh kerusakan sistem saraf)
PENYEBAB SYOK
  • Perdarahan (syok hipovolemik)
  • Dehidrasi (syok hipovolemik)
  • Serangan jantung (syok kardiogenik)
  • Gagal jantung (syok kardiogenik)
  • Trauma atau cedera berat
  • Infeksi (syok septik)
  • Reaksi alergi (syok anafilaktik)
  • Cedera tulang belakang (syok neurogenik)
  • Sindroma syok toksik.
MANIFESTASI KLINIK
  • System Saluran Kencing
  • System Saluran Cerna
  • System Saraf Pusat
  • System Respirasi
  • System Kardiovaskuler
PEMERIKSAAN DIANOSTIK
  1. Pemeriksaan Penunjang
  2. Pemeriksaan Fisik
  3. Anamnesa
PENANGANAN

Penanganan setiap jenis syok membutuhkan penghilangan penyebab utama syok tersebut.

Misalnya pada syok anafilaktik maka perlu pembuangan antigen penyebab baik dengan cara menghentikan pemberian agen, atau lewat obat-obatan untuk menghilangkan efek agen dengan cara memperbaiki tonus otot.
PENATALAKSANAAN/TERAPI
  1. Penatalaksanaan khusus
  2. Penatalaksanaan umum
Penatalaksaan Umum :
  • Segera baringkan panderita, dengan kaki diangkat lebih tinggi dari kepala untuk menaikan aliran balik vena. Usaha ini bertujuan untuk memperbaiki curah jantung dan menaikan tekanan darah
  • Penilaian ABC sebagai tahapan dari resusitasi jantung paru
  • Penilaian jalan nafas
  • Jaga agar jalan nafas tetap terbuka, pastikan tidak ada sumbatan. Jika pasien dalam kondisi tak sadar, posisikan kepala dan leher agar lidah tidak jatuh ke belakang menutupi jalan nafas dengan cara melakukan ekstensi kepala
  • Penilaian status pernafasan
  • Memberikan bantuan nafas jika ada tanda-tanda pasien tidak mampu bernafas spontan, baik mouth to mouth, mouth to nose, atau dengan menggunakan alat bagging. Pada syok anafilaktik yang disertai udem laring maka diperlukan obat-obatan bronkodilator untuk mempertahankan jalan nafas terbuka. Sedangkan penderita yang mengalami obstruksi jalan nafas total maka diperlukan tindakan intubasi segera melalui endotrakhe, krikotirotomi, atau trakeotomi.
  • Circulation
  • Jika tidak teraba nadi pada arteri besar (carotid, atau femoralis) maka segera lakukan kompresi jantung luar.
Penatalaksaan Khusus :
  • Vasopressor : Pemberian obat-obatan ini adalah setelah koreksi cairan dan ventilasi. Bila terjadi bradikardi, berikan terlebih dahulu isoproterenol untuk meningkatkan O2 miokard, sehingga dapat mencegah meluasnya infark miokard.
  • Vasodilator : Obat-obatan ini terutama untuk syok kardiogenik dimana jantung mengalami kelemahan. Nitrogliserin digunakan dengan tujuan untuk mengurangi preload sehingga menurunkan beban jantung
  • Inotropik : Obat ini digunakan terutama pada pasien syok kardiogenik dengan tujuan untuk menurunkan aktivitas jantung yang berlebih, sehingga menurunkan kebutuhan oksigen miokard.
PENCEGAHAN SYOK

Mencegah syok lebih mudah dari pada mencoba mengobatinya. Pengobatan yang tepat terhadap penyebabnya bisa mengurangi resiko terjadinya syok.

Dibawah ini beberapa cara pencegahan shock :
  1. Pemberian cairan/minum yang banyak
  2. Istirahat/mengurangi aktifitas hingga hari ke 7 bebas demam
TERAPI-TERAPI SHOCK
  • Norepinefrin adalah vasopressor awal disukai di syok septik tidak merespons untuk pemberian cairan.
  • Epinefrin dapat ditambahkan dalam kasus di mana ada hemodinamik suboptimal menanggapi norepinefrin.
  • Phenylephrine dapat mencoba sebagai vasopressor awal dalam kasus yang parah tachydysrhythmias.
  • Dobutamin digunakan di negara-negara CO rendah meskipun resusitasi cairan yang adekuat tekanan.
  • Vasopresin dapat dianggap sebagai terapi tambahan pada pasien yang refrac-tory untuk vasopressor katekolamin meskipun resusitasi cairan yang kuat.
  • Kortikosteroid dapat dimulai shock septic ketika insufisiensi adrenal adalah sus-pected, ketika dosis vasopressor yang meningkat, atau ketika penyapihan dari vasopressor Terapi membuktikan sia-sia.
Evaluasi Hasil Terapeutik
  • Pantau pasien dengan penurunan volume diduga awalnya dengan tanda-tanda vital, out-urine menempatkan, status mental, dan pemeriksaan fisik.
  • Penempatan garis CVP menyediakan berguna (meskipun tidak langsung dan tidak sensitif) mengestimasi pasangan dari hubungan antara peningkatan tekanan atrium kanan dan CO.
  • Cadangan kateterisasi arteri pulmonalis untuk kasus-kasus yang rumit syok tidak menanggapi terapi cairan dan obat-obatan konvensional
  • Tes laboratorium untuk pemantauan shock termasuk elektrolit dan fungsi ginjal tes tion (BUN dan kreatinin serum)
  • Memonitor parameter kardiovaskular dan pernapasan terus menerus
  • Resusitasi cairan Sukses harus meningkatkan SBP (> 90 mm Hg), CI (> 2,2 L / min /m2), Dan output urin (0,5-1 mL / kg / h) sedangkan penurunan SVR ke kisaran normal. MAP lebih besar dari 65 mm Hg harus dicapai untuk memastikan otak yang memadai dan tekanan perfusi koroner.
    KESIMPULAN

    Syok adalah berbeda daripada shock emosional atau syok psikologi yang dapat terjadi setelah kejadian emosional yang traumatik atau menakutkan.

    Syok memerlukan perawatan segera karena gejala-gejala dapat memburuk secara cepat.

    Tipe atau penyeab syok, perawatan-perawatannya akan berbeda. Pada umumnya, memberikan jumlah cairan yang besar untuk menaikan tekanan darah dengan cepat dengan IV (intravena) kamar keadaan darurat adalah perawatan garis pertama untuk semua tipe-tipe syok.

    Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama penderita mengalami syok.

    *Sumber dari Meta Yunita Primayanti, Rizky Amelia Kusuma, Shabrina Hanifati, Nurhilyah Ailah, Abdul Rahman, Eni Kusrini, Fauzi Aldino, Syalmiah, Linda Wahyuni, Clara Jesica Martin, Muhammad Syukron, Delvy Damayanti, Abdul Husni
    Baca Juga
    Previous Post
    Next Post