Kamis, 18 Mei 2017

Al-Quran dan As Sunah Rasulullah saw. Menginformasikan Ciri dan Sifat Orang Munafik

Assalamualaikum Wr Wb
Al-Qur'an dan As Sunah Rasulullah saw. Menginformasikan Ciri dan Sifat Orang Munafik
Pengikut langkah-langkah setan selanjutnya adalah nifak dari orang-orang munafik. Pada dasarnya sifat dan sikap nifak adalah bentuk kekufuran yang tersembunyi karena takut pada orang-orang yang beriman.

Orang munafik bersikap hipokrit bermuka dua. Ia berpura-pura sebagai orang beriman ketika berada di tengah-tengah orang-orang yang beriman.

Dan ia menjadi kafir apabila berada di tengah-tengah orang-orang yang kafir. Sikap hipokrit yang demikian dari orang-orang munafik lebih bahaya daripada tindakan orang-orang kafir yang secara terang-terangan memusuhi Islam.

Sebagaimana firman Allah swt. (Q.S. al-Baqarah (2): 204-206) yang artinya : "Dan diantara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah (mengenai) isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan. Dan apabila dikatakan, "Bertakwalah kepada Allah, "bangkitlah kesombongannya berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh neraka Jahanam itu tempat tinggal yang terburuk."

Al-Qur'an dan As Sunah Rasulullah saw. menginformasikan ciri-ciri dan sifat-sifat dari orang munafik sebagai berikut :

1. Bermuka dua dan tidak mempunyai pendirian yang tetap. Pendiriannya tergantung pada orang yang dihadapinya.

Bila ia berhadapan dengan orang-orang yang beriman akan menyatakan dirinya sebagai orang beriman dan sebaliknya bila ia berhadapan dengan kaum kafir ia akan membela mereka yang kafir.

Firman Allah swt (Q.S. al-Baqarah (2): 14) yang artinya : "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. "Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."

Dan firman Allah swt lainnya (Q.S. Muhammad (47): 16) yang artinya : "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad) tetapi apabila mereka keluar dai sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sabat Nabi), "Apakah yang dikatakannya tadi ?" Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah, dan mengikuti keinginannya."

2. Berdusta dan bila berikrar tidak dapat dipercaya. Ikrar orang-orang munafik selalu diingkarinya sendiri, baik ikrar dihadapan Allah apalagi ikrar di hadapan manusia.

Tidak ditunaikannya ikrar yang telah diucapkan karena sifat kikir yang telah melekatinya. Firman Allah swt (Q.S. at-Taubah (9): 75-78) yang artinya :

"Dan diantara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan mereka selalu menentang (kebenaran). Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka mengetahui bahwasa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib ?"

3. Bermulut besar dan suka membantah terhadap perintah Allah swt. apalagi perintah yang berhubungan dengan perang.

Perkataannya tidak sesuai dengan hatinya. Orang-orang munafik takut mati bila diajak berperang di jalan Allah.

Firman Allah dalam (Q.S. Ali 'Imran (3): 165-168) yang artinya : "Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada perang Badar) kamu berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini ?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. "Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang (yang benar-benar) beriman, dan agar Allah menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). "Mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikuti kamu. "Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Dan hanya Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Mereka itu adalah) orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh. "Katakanlah, "Cegahlah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar."

4. Pengadu domba diantara orang-orang yang beriman, dengan perisai sumpah yang diikrarkannya, menghalangi manusia dari jalan Allah swt.

Firman Allah swt dalam (Q.S. al-Munafiqun (63): 1-2) yang artinya : "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, "Kami mengakui, bahwa engkau Rasul Allah. "Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan."

5. Murtad dari agama Allah (agama Islam) dan menjadikan agama sebagai olok-olokan saja. Menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-temannya yang diajak untuk memperolok-olok agama Allah.

Orang-orang munafik hendak menipu Allah dan Rasul-Nya serta bermalas-malasan untuk mengerjakan sholat kecuali untuk ria' belaka.

Firman Allah swt dalam (Q.S. an-Nisa' (4): 137-139) yang artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus). Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir itu ? Ketahuilah bahwa semua kekuatan Allah."

6. Tidak mau tunduk kepada hukum-hukum Allah bahkan menghalangi manusia untuk melaksanakan hukum-hukum Allah tersebut, namun jika mendapat musibah yang merugikan dirinya berkenaan dengan pemberlakukan hukum-hukum Allah, ia minta diselesaikan secara baik dengan perdamaian yang sempurna.

Firman Allah swt dalam (Q.S. an-Nisa' (4): 61-63) yang artinya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul, (niscaya) engkau melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu. Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa (orang munafik) mereka disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki kebaikan dan perdamaian. "Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya."

7. Mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir padahal sebenarnya dia bukan orang yang beriman, ia mempunyai sifat hasad dan dengki kepada orang-orang yang beriman.

Mengaku dirinya sebagai pembangun padahal sebenarnya merusak bumi dan isinya untuk kepentingannya sendiri.

Dalam Firman Allah swt. (Q.S. al-Baqarah (2): 8-12) yang artinya : "Dan diantara manusia ada yang berkata, Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi." Mereka menjawab, "Sungguh, justru kami orang-orang yang melakukan perbaikan."Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari."

5. Lemah kemauannya untuk mengkaji dan mengamalkan Islam sekalipun terkadang tertarik pada Islam karena ia telah menutup diri terhadap jalan hidayah Allah swt. dari segala jalan, baik pendengarannya, penglihatannya, maupun percakapan dan hatinya.

Ia lebih cenderung dan berat mengambil jalan kesesatan dan membuang jauh-jauh petunjuk Allah swt.

Firman Allah swt. (Q.S. al-Baqarah (2): 16-18) yang artinya : "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidaklah beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."

6. Memamerkan diri tentang shalatnya, sedekahnya, dan perbuatan baik lainnya. Ia akan berbuat baik bila dipuji oleh orang lain, dan sebaliknya.

Ia juga khawatir rahasianya terbongkar oleh orang-orang yang beriman karena ada Al-Qur'an, dan berpura-pura mengikuti petunjuk Al-Qur'an ketika ada kepentingan bagi dirinya dan sebaliknya ia akan meninggalkan Al-Qur'an ketika dianggap merugikan bagi dirinya.

Firman Allah swt. (Q.S. al-Baqarah (2): 19-20) yang artinya : "Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, menghindari suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Firman Allah swt. lainnya (Q.S. an-Nisa' (4): 38) yang artinya : "Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan harta mereka karena ria' kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat."

Firman Allah swt. lainnya lagi (Q.S. an-Nisa' (4):142) yang artinya : "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria' (ingin dipuji) dihadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali."

Firman Allah swt. yang ketiga adalah (Q.S. al-Ma'un (107): 1-7) yang artinya :"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yaitu berbuat ria', dan enggan (memberikan bantuan)."

7. Jika diberi amanat ia berkhianat, jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika berdebat dengan orang lain ia curang.

Tiap-tiap pribadi muslim mestilah mampu bersikap tegas dalam menghadapi orang-orang munafik, ketegasan ini ditunjukkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari dengan cara tidak menjadikan orang-orang munafik menjadi teman kepercayaan, wali, pemimpin, dan jabatan strategis lainnya.

Disamping itu juga tiap-tiap pribadi muslim dilarang keras menyalati jenazah orang munafik. Sebagaimana firman Allah swt. (Q.S. at-Taubah (9): 84) yang artinya :"Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat jenazah untuk seseorang yang mati diantara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya, dan janganlah engkau (mendoakan) diatas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."

Orang munafik merupakan salah satu musuh yang dihadapi oleh tiap-tiap pribadi muslim di samping musuh-musuh lainnya.

Menghadapi musuh dari orang-orang munafik harus ekstra hati-hati, karena mereka sama kulitnya, sama pembicaraannya dengan orang-orang yang beriman dan secara kasat mata sulit membedakannya.

Kewaspadaan ini diperlukan agar orang-orang yang beriman tidak terjebak pada langkah-langkah setan sebagaimana halnya yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat. Kritik, koreksi, dan saran akan kami terima dengan baik. Wassalamualaikum Wr Wb

*Sumber : Buku Benarkah Saya Muslim ? "Percik-Percik Renungan Bagi Pribadi Muslim"
Baca Juga
Previous Post
Next Post