Senin, 05 Juni 2017

Berhati-hatilah !!! Dengan Isu Fenomena Warisan

Assalamualaikum Wr Wb
Diambil dari akun Salaktu At-Tareqe.

Untuk Dek Afi dan Orang-orang yang Sepemikiran dengannya.

Semula, saya tidak paham ada apa dengan nama Afi Nihaya Faradisa yang belakangan namanya naik daun disebut-sebut berserta kata ‘warisan’.

Sampai saya mencari tahu sendiri akunnya, dan menelaah segala sesuatu yang tertuang melalui tulisannya.

Ternyata ada banyak sekali sisi mengerikan dalam pemikirannya.

Pemikiran yang terlalu ‘berani’ sampai rela menjauhkan dirinya dari dalil, konsep keimanan dalam Islam, dan apapun ditabrak demi sebuah ‘idealisme’ kotor.

Saya bilang kotor, karena sikap anda mengesampingkan rumus-rumus religius, dan sangat memuja konsep persatuan.

Persaudaraan palsu yang dilandasi nasionalisme bukan landasan agama Islam yang mulia, yang dijamin kebenarannya oleh ALLAH sampai hari kiamat.

Atau singkatnya, anda telah menjadi figur ‘muslim’ sekuler dan moderat sejati.

Oke, saya tidak akan berat-berat dulu untuk membuat tulisan ini, agar mudah dipahami anak-anak dan semua kalangan.

Saya hanya akan mengajak anda sedikit berpikir tentang idealisme yang benar, konsep takdir, bagaimana seharusnya ‘kebinekaan’ yang diarahkan oleh agama anda, Islam dst.

Dalam tulisan anda yang berjudul ‘warisan’ anda mengatakan: “Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam.

Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya ?

Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.”

Adek Afi hadakillah waiyyakum ajma’in, sebagai seorang Muslim, sudah menjadi kewajiban absolut bahwasannya akal harus tunduk terhadap dalil.

Tidak semua syariat Islam dapat dinalar kemudian dibantah dengan nalar persepktif hawa nafsu pula.

Kita hanya diperintahkan untuk mengimani, taat, dan bersyukur atas nikmat yang sungguh besar ini, nikmat Islam sejak lahir.

Nikmat ini bukan hanya warisan. Nikmat ini bukan semata turun-temurun dari keluarga kita apalagi yang menentukan adalah lingkungan.

Betapa kelirunya praduga semacam ini. Berapa banyak orang yang hanya memperoleh nikmat Islam katakan sejak kecil atau ‘warisan’ (meminjam istilah anda), namun jauh dari petunjuk ?

Berapa banyak pula orang-orang yang semula kafir kemudian ALLAH tunjukkan jalan Islam sehingga banyak dari mereka justru lebih baik keislamannya dari kita ?

Inilah misteri dan Keagungan ALLAH yang menghendaki siapapun atas hidayah, dan menyesatkan siapapun.

Seperti yang banyak disebut dalam Al-Qur’an dengan hal ini ALLAH menguji hamba-hamba-Nya.

Karena dunia hanyalah tempat ujian sebelum pada akhirnya segala hisab dan tempat kembali di akhirat, surga atau neraka.

Maka jika apa yang terjadi adalah kebetulan belaka, apakah kelak tempat kembali anda dan saya juga kebetulan ?

Na’udzubillah min dzalik, ini bisa menyebabkan anda tidak mengimani tujuan ALLAH menciptakan manusia dan jin di dunia ini, dan juga mengingkari adanya surga dan neraka.

Maka inilah salah satu bentuk kekafiran.

Tidak semestinya seorang Muslim berkata “seandainya saya hidup di Israel dst, dari keluarga Yahudi dst, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam ?”

Benar memang, kita tidak bisa memilih takdir, tapi kita bisa mengusahakannya sebagai asbab. Apakah anda lupa hadits riwayat Muslim ini – semoga anda mengingatnya -.

Seorang bayi tak dilahirkan [ke dunia ini] melainkan ia dalam kesucian [fitrah/tauhid/Islam].

Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat.

Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat ?

Lalu Abu Hurairah berkata: ‘Apabila kalian mau, maka bacalah firman ALLAH yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah ALLAH yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah ALLAH.’ [Ar-Rum 30].

Maka jelaslah, kalimat-kalimat anda sangat jauh dari dalil, dan hanya didasari pemikiran anda belaka.
Selanjutnya, masih mengenai konsep kebetulan versi anda.

Maka perlu anda ketahui tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an, “... ALLAH mengatur urusan [makhluk-Nya]….” [Ar-Ra’d: 2].

Dalam ayat lain dikatakan, “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya [pula]....” [Al-An’am: 59].

Point selanjutnya anda mengatakan, “Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.

Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.”

Saya akan mengajak anda merenungi ayat-ayat yang berkaitan orang-orang munafik. Sudah ma’ruf di antara kita sejak zaman dahulu, orang kafir dan orang munafik selalu bekerja sama.

Orang kafir melakukan konspirasi untuk merusak Islam dari luar, sementara orang munafik bertugas melakukan pendangkalan ideologi kaum Muslimin dari dalam.

Mereka saling membisikkan kalimat indah, untuk menipu orang yang beriman.

Sebagaimana yang telah ALLAH Ta’ala firmankan : “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan [dari jenis] manusia dan [jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” [Al-An’am:112].

Firman ALLAH yang lainnya: “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang ma’ruf.” [At-Taubah: 67].

Maha Benar ALLAH atas segala firman-Nya.

Dan kita bisa melihat semangat ini ketika mereka menanamkan prinsip racun di tengah kaum Muslimin, “Islam itu baik sekali, sangat besar, dan sangat indah.

Kenapa dibela ? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau, hatinya kotor apa pantas bela Islam ?”

Dengan kata lain, sudahlah biarkan orang kafir menghina Islam, melecehkan Islam, kita nggak usah membela Islam. Karena Islam tidak perlu dibela !

Apa tujuan mereka ? Siapapun bisa melihat sangat jelas, tujuan mereka adalah untuk mendiamkan setiap kemunkaran.

Sehingga setiap orang yang melakukan kemunkaran tidak perlu takut, karena mereka aman.

Jadilah misi mereka mulus berjalan, pelecehan terhadap agama Islam marak, dan kaum Muslimin lemah di mata mereka.

Karena kaum Muslimin tertipu dengan kata-kata indah dari sebuah konsep toleransi yang melampaui batas. Wal ‘iyadhu billah.

Jika anda sedikit saja mau menelaah kitab suci anda, anda pasti akan menemukan banyak perintah ALLAH kepada kita untuk membela Islam [ALLAH dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam].

Bukan semata anda membela Islam mati-matian bahkan anda tidak pernah memutuskan hal itu. Ini keliru. Firman ALLAH yang pertama: “Sungguh ALLAH akan menolong orang yang membela-Nya.

Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 40].

Firman-Nya di ayat lain: “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong agama ALLAH, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian.” [Muhammad: 7].

Di ayat lainnya, ALLAH juga memerintahkan untuk membela Nabi dan Rasul-Nya, “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kalian beriman kepada ALLAH dan Rasul-Nya, mendukungnya, memuliakannya...” [Al-Fath: 8-9].

Adapun pembelaan terhadap agama ALLAH memiliki ganjaran yang besar. Sudah termaktub pula dalam Al-Qur’an semua yang membahas tentang perintah membela dienul Islam begitupula ganjarannya.

Point selanjutnya anda mengatakan, “Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka. Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.”

Dek Afi hadakillah wa man tabi’aki ajm’ain.

Pertama dari yang pertama yang sangat wajib anda imani adalah bahwa segala apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mutlak kebenarannya.

Karena apa yang dibawa Rasul adalah wahyu yang datang dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Tak ada keraguan di dalamnya. Dan apa yang datang selain darinya adalah bathil. Ini pokok keimanan yang perlu anda tancapkan dalam hati anda.

Tak perlu takut dengan label radikal, intoleran, garis keras, fundamental, anti kebinekaan dst.

Justru inilah tolok ukur idealisme seorang yang mengaku ALLAH sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai panutannya, Al-Qur’an sebagai pedomannya, Islam sebagai agamanya.

Kedua perkara ini tidak bisa dipisahkan karena ibarat mata uang yang saling menyatu sama lain dan melengkapi kesempurnaan iman terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak bisa anda meyakini kebenaran ajaran Islam namun di saat yang sama anda tidak meyakini bathilnya ajaran selain Islam atau malah membenarkan ajaran mereka !

Lakum dinukum waliya dien, lana a’maluna walakum a’malukum [bagimu agamamu, bagiku agamaku, bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian].

Semua ini akan menjadi pertanggungjawaban kelak di hadapan ALLAH.

Maka urusan mereka Yahudi, Kristen dst, ALLAH Ta’ala telah mengutuk dan memvonis mereka sebagai golongan yang dimurkai dan tersesat [silahkan baca tafsir Al-Fatihah ayat terakhir, ayat yang sering anda ucapkan setiap shalat].

Ada banyak pula ayat Qur’an yang menyatakan secara tegas bahwa mereka inilah golongan yang paling dengki.

Keras permusuhannya terhadap Islam dan tak akan berhenti sampai kaum Muslimin murtad dari agamanya. Na’udzubillah min dzalik.

Point selanjutnya anda mengatakan,

“Maka, bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan,

"Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.".”

Kenapa memangnya jika bukan sekedar bayangan ? Tapi kenyataan bahwa garis tegas antara haq dan bathil sudah jelas membentang.

Sejak zaman Adam diciptakan sampai umat Nabi terakhir di akhir zaman pertarungan ini abadi selamanya.

Firman ALLAH Ta’ala :

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan [menghalang-halangi] mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [taat]’.” [Al-A’raf: 16-17].

“Ketika Iblis putus asa dari rahmat ALLAH, dan ia dijauhkan dari rahmat-Nya, maka ia bersumpah untuk melanjutkan permusuhannya dengan anak-anak Adam.

Ia bersumpah untuk sekuat tenaga menghalangi mereka dari jalan kebenaran.” [Ibnu Katsir, 3/383 dan As-Sa’di, hal. 284].

Sifat peperangan antara kebenaran dan kebathilan adalah saling mengalahkan, menguasai dan menundukkan.

Sehingga dunia ini hanya ada di dua kondisi, dikendalikan oleh Islam sebagai simbol kebenaran [haq] dan kebathilan tersingkirkan, bertekuk-lutut di bawah al-Haq, atau dunia ini dikendalikan oleh kebathilan untuk sementara waktu.

Karena sunnatullah menegaskan, kebatilan pasti lenyap dan kebenaran akan tegak [Al-Isra’: 81].

Biasanya untuk mengalahkan kebenaran, para pengusung kebathilan akan menggunakan sihir untuk memperindah apa yang diusung.

Kebathilan menyihir manusia bahwa seakan-akan apa yang disuarakan dan diusungnya adalah kebaikan.

Anda akan bertanya mengapa dengan sihir ?

Ya karena sejatinya pada diri kebathilan seperti ideologi syirik demokrasi, nasionalisme, atheis ataupaun tawaran lain dari kebathilan tidak memiliki harga dan nilai di hadapan manusia.

Semua yang ditawarkan oleh kebathilan adalah rongsokan, sampah yang tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Baik ideologi, etika maupun akhlaknya. Oleh karenanya dengan sihir menjadi begitu indah di mata manusia [Al-Anfal: 48, At-Taubah: 37].

Begitulah, ALLAH telah menegaskan takdir hubungan antara kebenaran dan kebathilan adalah permusuhan [Al-Anbiya’: 18].

Maka Dek Afi, masing-masing kita telah ALLAH karuniakan akal sebagai alat untuk berfikir, dan hati sebagai tempat menaruh keimanan.

Maka beruntunglah jika anda bisa mengislamkan seseorang, maka rugilah jika anda tanpa sadar memurtadkan seorang Muslim -bahkan ratusan ribu- atau minimal meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajibannya !

Sekali lagi tolok ukur kita bukan nasionalisme, tetapi dienul Islam, apa yang diturunkan ALLAH, bukan apa yang tawarkan manusia semacam kebinekaan, pancasila, NKRI, demokrasi dst.

Jika hendak membumikan kaidah toleransi, maka letakkan kaidah tersebut pada takarannya bukan melampauinya.

Semoga bisa memahami point-point penting ini.

Bersambung... in sya ALLAH.

*Dikutip dari Posting Facebook Azhar Saputra
Baca Juga
Previous Post
Next Post