Senin, 05 Juni 2017

Tulisan Bagus Buya Novaldi Herman (Fenomena Tulisan Warisan)

Assalamualaikum Wr Wb
Dibaca ya dek Afi Nihaya Faradisa. Semoga mencerahkanmu.

Fenomena Afi dengan tulisan bertopik Warisan yang dipublikasikannya, secara umum lebih kita kenal dengan relativisme.

"All is relative", begitu pandangannya. Menyatakan kebenaran sebenarnya hanyalah berdasarkan sudut pandang.

Gajah besar, dilihat dari depan terlihat belalainya.

Dilihat dari samping terlihat badan besarnya. Dilihat dari belakang, terlihat ekornya. Jadi salah-benar dilihat dari sudut pandang kita berdiri. Begitu pikirnya.

Afi sebenarnya bukanlah satu-satunya yang mengampanyekan relativisme seperti ini.

Ia merupakan slogan era posmodern yang lahir di Barat.

Paham ini diumpamakan oleh Ust. Hamid Fahmy Zarkasyi layaknya sebuah firman tanpa Tuhan, sabda tanpa Nabi, Undang-Undang tanpa penguasa, atau tepatnya ideologi tanpa partai (kalau di masyarakat kita sepertinya lebih banyak partai tak konsisten berideologi :'D )

Artinya pemikiran ini seolah kuat, tapi tidak punya dasar yang kokoh.

Slogan ini seperti menjanjikan kedamaian, sebab serba-tergantung-sudut-pandang dalam menilai adalah hakikat oleh mereka.

Baik-buruk, benar-salah, bahkan berpahala atau berdosa itu tergantung siapa yang menilai.

Ia bersifat nisbi, relatif, benar menurut saya belum tentu benar menurut ia.

Hal menarik dan sebenarnya kontradiktif dari pemikiran ini adalah kebenaran relatif itu justru tak berlaku untuk pemikiran mereka sendiri.

Semisal, jika saya menganggap Islam adalah agama yang benar, iinaddiina 'indallahi al-Islam (tidak ada agama yang diterima di sisi Allah selain Islam).

Mereka akan menjawab, "Itu karena anda beragama Islam. Bila anda beragama lain, atau bahkan tak beragama, tentu bukan Islam yang anda anggap benar."

Pertentangan mereka ini sebenarnya bisa dikembalikan dengan, "Bila kebenaran agama boleh anda anggap relatif, bisa benar-bisa salah, artinya saya juga boleh menganggap pemikiran relatif anda tersebut bisa benar dan bisa juga salah.

Dan dalam hal ini saya menganggap pemikiran relatif anda dalam pandangan saya adalah salah."
Anehnya, bila itu yang kita sebutkan pada mereka, maka mereka tidak menerimanya.

Bahkan mereka kerap marah.

Aneh, sebab mereka menyatakan kebenaran adalah relatif, tapi mengabsolutkan relatifitas mereka terhadap orang lain.

Dr. Adian Husaini pernah berguyon menghadapi seorang relativis. Ia tanya, "Apakah anda seorang lelaki?" Dijawab oleh penganut relativisme itu, "Ya.

Saya lelaki." Kembali dibalas oleh Dr. Adian, "Kebenaran adalah relatif.

Dalam pandangan anda, anda adalah seorang lelaki. Tapi karena kebenaran relatif, saya jadi ragu kalau anda adalah lelaki. Jangan-jangan anda..." :D

Tidak semua kebenaran itu relatif. Dalam Islam misalnya, ada yang tsawabit dan mutaghayyirat. Ada yang tetap, ada yang berubah. Tidak semuanya berubah atau relatif.

"Berpikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar," tidaklah tepat dalam alam pikiran Islam.

Rukun iman ada 6. Jika tidak beriman pada Qur'an sebagai kitabullah, tentu telah teridentifikasi imannya cela.

Jangan karena kebanaran relatif, lalu disebutkan pula bahwa isi Qur'an bisa benar-bisa salah.

Gajah mau dilihat dari depan, dari belakang, samping kiri atau kanan memang yang dilihat adalah sisi berbeda, tapi tetap saja itu adalah gajah.

Bukan karena beda sisi berdiri, ia jadi kucing, kelinci ataupun kambing.
Afi saya lihat adalah korban popularitas.

Ia akan terus berkampanye tentang Warisan selama ide-ide yang ditulis dan disampaikannya masih laku dijual. Sudah saatnya kita paling tidak, tak lagi menjualkan relativisme a la warisan ini.

Wassalamualaikum Wr Wb

*Dikutip dari Facebook Postingan Azhar Saputra
Baca Juga
Previous Post
Next Post