Senin, 21 Agustus 2017

Pengertian Lengkap, Anatomi, Bagian-Bagian Mata dari Segi Ilmu Farmasi

Mata

Pengertian Lengkap Tentang Mata

Anatomi Mata

Mata adalah alat indra manusia yang berfungsi sebagai indra penglihatan. Mata merupakan alat indra yang kompleks.

Apabila kita menyebutkan Mata, maka dalam pikiran kita yang muncul adalah bola mata.

Namun sebenarnya tidak hanya bola mata yang berperan agar kita dapat melihat, bulu mata, alis mata, dan kelopak mata juga berperan penting dalam mendukung penglihatan.

Mata merupakan organ yang kerjanya terkait dengan cahaya (terang & gelap), warna, dan benda yang dilihat.

Bagian Dalam Mata

a. Dinding Bola Mata: Bola mata terdiri atas 3 dinding yang memiliki peran dominan dalam menjalankan fungsinya sebagai alat indra penglihatan.

Ketiga bagian tersebut adalah:
  • Sklera: Bagian dinding mata paling luar. Bagian yang berwarna putih buram dan bersifat keras karena tersusun oleh jaringan ikat dengan serat yang kuat. Berfungsi membungkus dan melindungi bola mata dari kerusakan.
  • Kornea: Bagian depan sklera terdapat bagian bening yang cembung. Berfungsi melindungi lensa mata dan meneruskan cahaya yang masuk ke mata. Kornea selalu dibasahi oleh air mata, tidak memiliki pembuluh darah dan bersifat tembus cahaya.
  • Koroid: Bagian dinding mata lapisan tengah yang berfungsi menyuplai oksigen dan nutrisi untuk bagian lain, terutama retina.
Pada Koroid terdapat banyak pembuluh darah, untuk mempermudah transfer oksigen.

Koroid umumnya berwarna Coklat kehitaman atau hitam. Warna gelap pada Koroid berfungsi agar cahaya tidak direfleksikan (dipantulkan).

Bagian depan koroid yang terputus akan membentuk iris (selaput pelangi), pada bagian tengah iris terdapat lubang yang dinamakan pupil.
  • Retina : Bagian dinding paling dalam dari mata yang berfungsi untuk menangkap bayangan benda karena memiliki sel yang peka terhadap cahaya.
Retina merupakan bagian yang memiliki reseptor cahaya yang terdiri dari sel – sel saraf yaitu:

*Sel Batang (Basilus): Sel yang peka terhadap cahaya tidak kuat (lebih berperan saat malam hari atau dalam keadaan gelap)

*Sel Kerucut (Konus): Sel yang peka terhadap intensitas cahaya yang kuat (lebih berperan saat siang hari atau dalam keadaan terang)

Bagian belakang retina tidak memiliki sel batang maupun sel kerucut tersebut, oleh karenanya disebut titik buta, dan apabila bayangan benda jatuh pada titik tersebut maka kita tidak bisa melihat. 

Sedangkan bagian mata yang memiliki banyak sel kerucut disebut titik kuning, bagian ini merupakan bagian yang paling peka terhadap cahaya, apabila bayangan benda jatuh pada titik kuning, maka manusia mampu melihat dengan jelas.

b. Iris: Bagian yang memberi warna pada mata. Iris berperan memberikan warna pada bola mata manusia.

Pada bagian Iris terdapat pigmen warna, oleh karena itu iris sering disebut selaput pelangi, iris terletak pada bagian depan bola mata.

Iris dapat mengerut dan mengembang, iris berfungsi mengatur pergerakan pupil sesuai dengan intensitas cahaya yang masuk. 

c. Pupil: Bagian lubang yang terdapat pada bagian tengah iris yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke mata.

Pupil akan melebar apabila sedikit cahaya yang masuk ke mata (dalam keadaan semakin gelap) dan akan mengecil apabila banyak cahaya yang masuk ke mata (dalam keadaan semakin terang).

Proses membesar dan mengecilnya Pupil berguna agar cahaya yang masuk tidak berlebihan dan tidak terlalu sedikit agar kita tetap dapat melihat dengan baik. 

d. Lensa: Bagian yang bersifat lunak dan transparan yang terdapat di belakang iris.

Berfungsi mengumpulkan dan memfokuskan cahaya agar bayangan benda jatuh di tempat yang tepat.

Lensa memiliki kemampuan yang disebut daya akomodasi, yaitu kemampuan untuk menebal/menipisnya atau mencembung / memipihnya lensa sesuai dengan jarak benda yang dilihat. 

Lensa diikat oleh otot pemegang lensa, otot inilah yang berfungsi dalam kemampuan daya akomodasi lensa.

Apabila lensa akan semakin cembung saat melihat benda yang dekat dan semakin memipih saat melihat benda yang jauh.

e. Kelenjar Lakrima (kelenjar air mata): Bagian mata yang berfungsi untuk menghasilkan air mata yang akan membasahi kornea, melindungi mata dari kuman, menjaga mata dan kelopak mata bagian dalam agar tetap lembut dan sehat.

f. Saraf Optik: Bagian yang berfungsi untuk memberikan informasi visual yang diterima dan diteruskan ke otak. 

Tetes Mata

Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.

Pengertian lain tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus conjungtival.

Mereka dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik, bahan antiinflamasi seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriatik seperti atropin sulfat.

Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata.

Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok.

Faktor-faktor penting dalam sediaan larutan mata:
  1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan.
  2. Sterilitas akhir dari tetes mata dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari banyak mikroorganisme selama penggunaan dari sediaan.
  3. Isotonisitas dari larutan.
  4. pH yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan stabilitas yang optimum
Tetes mata adalah larutan berair yang idealnya harus memiliki sifat-sifat:
  1. Harus steril ketika dihasilkan
  2. Bebas dari partikel-partikel asing
  3. Harus bebas dari efek mengiritasi
  4. Harus mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan selama penggunaan.
  5. Jika dimungkinkan tetes mata seharusnya isotonis dengan sekresi kelenjar air mata.
  6. Harus stabil secara kimia
Keuntungan dan kerugian tetes mata:
  • Keuntungan: Larutan optalmik merupakan cara yang biasanya paling popular dari pemberian obat pada mata. Seperti didefenisikan, semua bahan sepenuhnya dalam larutan, keseragaman tidak menjadi masalah dan terdapat gangguan fisik sedikit dengan daya penglihatan.
  • Kerugian: Relatif mempunyai waktu kontak yang singkat antara pengobatan dan absorbsi permukaan. 
Formulasi:
  • Formula umum
  • R/Zat aktif
Bahan pembantu:
  1. Pengawet
  2. Pengisotonis
  3. Antioksidan
  4. Pendapar
  5. Peningkat viskositas
  6. Pensuspensi
  7. Surfaktan
Teori Bahan Pembantu

a. Pengawet: Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan.

Pengawet yang sesuai untuk larutan obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut:
  1. Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama terhadap Pseudomonasa aeruginosa.
  2. Non iritan terhadap mata.
  3. Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.
  4. Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.
  5. Dapat  mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan sediaan.
b. Pengisotonis: Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa, gliserol dan dapar. Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata berdasarkan FI IV yaitu 0,6 – 2,0%. 

c. Pendapar: Secara ideal, larutan obat tetes mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata.

Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air, sebagian besar garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini.

Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4.

Tetapi larutan tanpa dapar antara pH 3,5 – 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman. Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata menurut FI IV yaitu 3,5 – 8,5.

Syarat dapar:
  1. Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan.
  2. Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan dapat  mengubah pH air mata.
d. Peningkat Viskositas: Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat viskositas untuk sediaan tetes mata yaitu:
  1. Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri.
  2. Perubahan pH yang dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat viskositas.
  3. Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi baik oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelompok mat, sulit bercampur dengan air mata atau mengganggu difusi obat.
Viskositas untuk larutan tetes mata dipandang optimal jika berkisar antara 15 – 25 cps.

Pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada:
  1. Ketahanan pada saat sterilisasi.
  2. Kemungkinan dapat disaring.
  3. Stabilitas.
  4. Ketidakcanpuran dengan bahan-bahan lain.
e. Antioksidan: Zat aktif untuk sediaan tetes mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu kadang dibutuhkan antioksidan.

Antioksidan yang sering digunakan adalah Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%.

f. Surfaktan

Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhi berbagai aspek:
  1. Sebagai antimikroba (surfaktan golongan kationik).
  2. Menurunkan tegangan permukaan antara obat tetes mata dan kornea sehingga meningkatkan aktif terapeutik zat aktif.
  3. Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal, meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.
  4. Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan merusak kornea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.
Sterilisasi: Suatu proses untuk membuat ruang/benda menjadi steril atau suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada.

Sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak.

Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri.

Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen / non patogen (tidak menimbulkan penyakit).

Baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis, tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat).

Tidak semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang terdapat dalam usus yang dapat membusukkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh.

Mikroba yang patogen misalnya Salmonella typhosa yang menyebabkan penyakit typus, E.coli  yang menyebabkan penyakit perut.

Tujuan Suatu Obat Dibuat Steril

Tujuan obat dibuat steril (seperti obat suntik) karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh yang lain dimana pertahanan terhadap zat asing tidak selengkap yang berada di saluran cerna / gastrointestinal, misalnya hati yang dapat berfungsi untuk menetralisir / menawarkan racun. 

Diharapkan dengan steril dapat terhindar adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relatif steril atau setengah steril , hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril.

Sediaan farmasi yang perlu disterilkan adalah injeksi, tablet implant, tablet hipodermik dan sediaan untuk mata seperti tetes mata, cuci mata, dan salep mata.

Cara - Cara Sterilisasi Menurut FI ed.IV:

a. Sterilisasi uap: Proses sterilisasi thermal yang menggunakan uap jenuh dibawah tekanan selama 15 menit pada suhu 121 derajat.

Kecuali dinyatakan lain, berlangsung di suatu bejana yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi paling banyak dilakukan.

b. Sterilisasi panas kering: Menggunakan suatu siklus Oven modern yang dilengkapi udara yang dipanaskan dan disaring.

Rentang suhu khas yang dapat diterima di dalam bejana sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15 derajat, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari 250 derajat .

c. Sterilisasi gas: Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang dinetralkan dengan gas inert, tetapi keburukan gas etilen oksida ini adalah sangat mudah terbakar, bersifat mutagenik, kemungkinan meninggalkan residu toksik di dalam bahan yang disterilkan, terutama yang mengandung ion klorida. 

Pemilihan untuk menggunakan sterilisasi gas ini sebagai alternatif dari sterilisasi termal, jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada sterilisasi uap atau panas kering. 

Proses sterilisasinya berlangsung di dalam bejana bertekanan yang didesain seperti pada otoklaf dengan modifikasi tertentu.

Salah satu keterbatasan utama dari proses sterilisasi dengan gas etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan gas tersebut untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam dari produk yang disterilkan.

d. Sterilisasi dengan radiasi ion: Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi gamma) dan radiasi berkas elektron.

Digunakan isotop radio aktif, misalnya Cobalt 60.

Pada kedua jenis ini, dosis yang menghasilkan derajat jaminan sterilitas yang diperlukan harus ditetapkan sedemikian rupa hingga dalam rentang satuan dosis minimum dan maksimum, sifat bahan yang disterilkan dapat diterima.

Walaupun berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 megarad (Mrad) radiasi yang diserap, tetapi dalam beberapa hal, diinginkan dan dapat diterima penggunaan dosis yang lebih rendah untuk peralatan, bahan obat dan bentuk sediaan akhir. 

Cara ini dilakukan jika bahan yang disterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan khawatir tentang keamanan etilen oksida.

Keunggulan sterilisasi ini adalah reaktivitas kimia rendah, residu rendah yang dapat diukur serta variabel yang dikendalikan lebih sedikit.

e. Sterilisasi dengan penyaringan: Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandungnya dapat dipisahkan secara fisika.

Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable.

Efektivitas penyaring media atau penyaring subtrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya adsorpsi bakteri dari matriks dan mekanisme pengayakan.

Penyaring yang melepas serat, terutama yang mengandung asbes harus dihindari penggunaannya kecuali tidak ada penyaringan alternatif  lain yang mungkin bisa digunakan. 

Ukuran porositas minimal membran matriks tersebut berkisar 0,2 mm–0,45 mm tergantung pada bakteri apa yang hendak disaring.

Penyaring yang tersedia saat ini adalah selulosa asetat, selulosa nitrat, flourokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil nilon, potef dan juga membran logam.

Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah steril, kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik.

Evaluasi Sediaan:
  • Evaluasi Fisik
  1. Uji kejernihan
  2. Penentuan bobot jenis
  3. Penentuan pH
  4. Penentuan bahan partikulat
  5. Penentuan volume terpindahkan
  6. Penentuan viskositas dan aliran
  7. Volume sedimentasi
  8. Kemampuan redispersi
  9. Penentuan homogenitas
  10. Penentuan distribusi ukuran partikel
  • Evaluasi Kimia
  1. Identifikasi
  2. Penetapan kadar
  3. Penetapan potensi
  • Evaluasi Biologi
  1. Uji sterilitas
  2. Uji efektivitas pengawet
Wadah dan Penyimpanan: Saat ini wadah untuk larutan tetes mata berupa gelas telah digantikan oleh wadah plastik fleksibel terbuat dari polietilen atau polipropilen dengan built in dopper.

Keuntungan wadah plastik:
  • Murah, ringan, relatif tidak mudah pecah.
  • Mudah digunakan dan lebih tahan kontaminasi karena menggunakan built in dopper.
  • Wadah polietilen tidak tahan autoklaf sehingga disterilkan dengan radiasi atau etilen oksida sebelum dimasukkan produk secara aseptik.
Kekurangan wadah plastik:
  • Dapat menyerap pengawet dan mungkin permeabel terhadap senyawa volatil, uap air, dan oksigen.
  • Jika disimpan dalam waktu lama, dapat terjadi hilangnya pengawet, produk menjadi kering (terutama wadah dosis tunggal) dan produk teroksidasi.
Persyaratan kompendial:
  • Farmakope eropa mensyaratkan wadah untuk tetes mata terbuat dari bahan yang tidak menguraikan atau merusak sediaan akibat difusi obat ke dalam bahan wadah atau karena wadah melepaskan zat asing ke dalam sediaan.
  • Wadah terbuat dari bahan gelas atau bahan lain yang cocok.
  • Wadah sediaan dosis tunggal harus mampu menjaga sterilitas sediaan dan aplikator sampai waktu penggunaan.
  • Wadah untuk tetes mata dosis ganaplikator sampai waktu penggunaan.
  • Wadah untuk tetes mata dosis ganda harus dilengkapi dengan penetes langsung atau dengan penetes dengan penutup berulir yang steril yang dilengkapi pipet karet.
  • Penyimpanan dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap, volume 10 ml, dilengkapi dengan penetes.
Penyimpanan:
  • Tetes mata disimpan dalam wadah “tamper-evident”. Kompatibilitas dari komponen plastik atau karet harus dicek sebelum digunakan.
  • Wadah untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi dengan dropper yang bersatu dengan wadah atau dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi secara terpisah.
Penandaan

Farmakope mengkhususkan persyaratan berikut pada pelabelan sediaan tetes mata:
  • Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet antimikroba atau senyawa lain yang ditambahkan dalam pembuatan. Untuk wadah dosis ganda harus mencantumkan batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi terhitung mulai wadah pertama kali dibuka.
  • Kecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh lebih dari 4 minggu.
  • Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi zat aktif, kadaluarsa dan kondisi penyimpanan.
  • Untuk wadah dosis tunggal, karena ukurannya kecil hanya memuat satu indikasi bahan aktif dan kekuatan atau potensi sediaan dengan menggunakan kode yang dianjurkan, bersama dengan persentasenya. Jika digunakan kode pada wadah, maka pada kemasan juga harus diberi kode.
  • Untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus menyatakan perlakuan yang harus diperlakukan untuk menghindari kontaminasi isi selama penggunaan.
Labelling

Label harus mencantumkan:
  • Nama dan persentase zat aktif.
  • Tanggal dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk digunakan lagi.
  • Kondisi penyimpanan sediaan tetes mata.
Untuk wadah dosis ganda, label harus menyatakan bahwa harus dilakukan perawatan tertentu untuk mencegah kontaminasi isi sediaan selama penggunaan. 

Chloramphenikol: Antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid.

Aktivitas anti bakterinya bekerja dengan menghambat sintesis protein dengan jalan meningkatkan ribosom subunit yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. 

Chloramphenikol efektif terhadap bakteri aerob gram positif dan beberapa bakteri aerob gram negatif.

Chloramphenikol [1-(p-nirofenil)-2-diklorasetamido-1,3-propandiol] berasal dari Streptomyces venezuelae, Streptomyces phaeochromogenes, dan Streptomyces omiyamensis.

Chloramphenikol berkhasiat untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh Salmonella thypi dan Salmonella parathypi.

Namun demikian, Chloramphenikol tidak aktif terhadap virus, jamur, dan protozoa.

Chloramphenikol memiliki mekanisme kerja dengan cara bekerja menghambat sintesis protein bakteri, obat dengan mudah masuk ke dalam sel melalui proses difusi terfasilitasi, obat mengikat secara reversible unit ribosom 50S sehingga mencegah ikatan asam amino yang mengandung ujung aminoasil t-RNA dengan salah satu tempat berikatannya di ribosom, pembentukan ikatan peptida dihambat selama obat berikatan dengan ribosom, Chloramphenikol juga dapat menghambat sistesis protein mitokondria sel mamalia karena ribosom mitokondria mirip dengan ribosom bakteri

Indikasi dari obat kloramfenikol yaitu demam tifoid, meningitis karena bakteri, infeksi saluran urin, penyakit riketsia, infeksi anaerob, bruselosis

Adapun efek samping dalam penggunaan obat Chloramphenikol:
  • Reaksi hematologik berupa depresi sumsung tulang dan anemia aplastik
  • Reaksi saluran cerna yakni mual, muntah, diare, glositis, dan enterokolitis, sindrom gray, menghambat fungsi penggabungan oksidase hepatik yang dapat mengakibatkan penghambatan metabolisme obat seperti walfarin, fenitonin, tolbutamin, dan klorporamid dan kloramfenikol apabila diberikan pada anak usia di bawah satu tahun dapat menyebabkan penyakit kuning.
*Sumber: Nitya Wita Utama
Baca Juga
Previous Post
Next Post