Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan dan Pengobatan)

Peranan arthropoda selain memberikan keuntungan dapat juga memberikan kerugian bagi kehidupan manusia. Berikut ini merupakan beberapa jenis arthropoda patogen bagi manusia :

1. Demodex folliculorum
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthrpoda
  • Subfilum: Chelicerata
  • Kelas: Arachnida
  • Ordo: Prostigmata
  • Famili: Demodicedae
  • Genus: Demodex
  • Penyakit: Demodisiosis
Demodex folliculorum adalah tungau folikel rambut berbentuk panjang menyerupai cacing semi transparan dengan 2 gabungan segmen tubuh berukuran 0,1-0,3 mm dan berkaki empat pasang yang letaknya berdekatan serta mempunyai abdomen dengan garis-garis transversal.

4 pasang kaki terdapat pada segmen tubuh bagian pertama.

Tubuhnya tertutup rangka luar dan mempunyai mulut untuk memakan sel kulit, hormon, dan air yang terdapat di folikel rambut. 

Demodex folliculorum betina lebih pendek dan membulat daripada Demodex folliculorum jantan. Tungau ini juga mampu berjalan di permukaan kulit dengan kecepatan 8-16 cm per jam.

Siklus Hidup

Siklus hidup Demodex folliculorum berlangsung selama 18-24 hari dalam tubuh hospes. Baik jantan maupun betina memilki lubang genital untuk melakukan perkawinan.

Perkawinan berlangsung di folikel rambut dan kelenjar keringat. Betina bertelur dan meletakan telurnya sebanyak 20-24 di folikel rambut.

Larva yang memiliki 6 kaki menetas pada hari ke 3-4. Tujuh hari Kemudian, larva berkembang menjadi dewasa.

Gejala Klinis

Parasit ini hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama di sekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen.

Kadang-kadang tungau ini ditemukan di bagian tubuh lain seperti kulit kepala.

Demodex folliculorum dapat menyebabkan kelainan berupa blefaritis, akne, rosasea dan impetigo kontagiosa yang disertai rasa gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder.

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahannya dengan melakukan kebersihan pada diri sendiri dan lingkungan sekitar terutama disekitar rambut dimana tempat vektor ini tumbuh.

Pengobatan demodisiosis pada kulit dapat dilakukan dengan olesan salep linden atau salep yang mengandung sulfur.

Pengobatan lainnya adalah asam salisilat, metronidazol, krotamiton, lindane, and sublimed sulphur, oral metronidazole, oral ivermektin dan topical permethrin, and oral or topical retinoids.

2. Stomoxys calcitrans
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthropoda
  • Kelas: Insecta
  • Ordo: Diptera
  • Subordo: Cyclorrapha
  • Family: Muscidae
  • Genus: Stomoxys
  • Species: Stomoxys calcitrans
Spesies yang paling umum dari Genus Stomoxys adalah Stomoxys calcitrans (dikenal juga dengan lalat kandang atau lalat rumah penggigit).

Baik lalat jantan dan betina keduanya menghisap darah.

Morfologi

Serupa dengan lalat rumah (musca domestica), tetapi lebih panjang. Pada kepala ditemukan palpus maksilarisnya yang ukurannya lebih pendek dibandingkan proboscis yang ujungnya tajam .

Toraknya juga terlihat ada 4 garis longitudinal berwarna abu-abu gelap (sama dengan Musca sp). Sayap, saat istirahat tetap melipat terpisah diatas abdomen dan V-4 tidak membentuk kurva. 

Lengpeng hipopleuron tidak memiliki sebaris bulu “setae”.

Abdomennya lebih pendek, tetapi lebih lebar jika dibandingkan dengan Musca sp dan ditemukan adanya tiga titik berwarna gelap pada segmen ke-2 dan ke-3 dan tepinya berwarna gelap, keabu-abuan atau coklat.

Siklus hidup

Dalam waktu 2-5 hari telur menetas menjadi larva yang akan membentuk pupa setelah 7-12 hari. Masa pupa dilalui selama 3-4 hari untuk mencapai imago (dewasa).

Lalat jantan maupun betinanya menghisap darah dan merupakan penerbang yang kuat dan berumur panjang. Aktif pada siang hari dan gigitannya menyakitkan (Levine 1990).

Masalah yang ditimbulkan

Menjadi vektor bagi Brucella abortus, B. Militensis, Bacillus antracis dan Trypanosoma evansi.

Pengendalian

Pengendalian relatif sulit dilakukan. Sanitasi dan kebersihan kandang merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi lalat.

Penggunaan insektisida juga merupakan cara digunakan untuk membunuh lalat dengan cara menyemprot kandang dengan Lindane 0,03-0,05 %, Toxaphene 0,5%, Metoxychlor 0,05 %, Coumaphos 0,125 %, Dioxanthion 0,15 %, Malation 0,5 %, atau Ronnel 0,75 %. 

Pemberian dichlorvos dalam minyak mineral diberikan setiap hari juga mampu mengusir lalat untuk hinggap dipermukaan tubuh hewan.

Selain dichlorvos bisa juga digunakan coumophos, malathion atau tetrachlorvinphos yang diberikan 2 sampai 3 kali seminggu dalam sediaan tabur.

Aplikasi insektisida dapat dilakukan dengan cara Dipping (populasi ternak banyak), spraying, Back Rubber, Dust bag, Pour on, lewat makanan dan menggunakan keping resin (seperti kalung).

Metode pengendalian biologi dengan menggunakan parasit penyengat yang sudah dikembangkan sebagai kompetitor biologis untuk Musca domestica.

3. Sarcoptes scabiei
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthropoda
  • Kelas: Arachnida
  • Ordo: Sarcoptiformes
  • Family: Sarcoptidae
  • Genus: Sarcoptes
  • Species: Sarcoptes scabiei
Sarcoptes scabiei adalah tungau dengan ciri-ciri berbentuk hampir bulat dengan 8 kaki pendek, pipih, berukuran (300–600 μ) x (250-400 μ) pada betina, dan (200- 240 μ) x (150-200 μ) pada jantan, biasanya hidup di lapisan epidermis.

Permukaan dorsal dari tungau ini ditutupi oleh lipatan dan lekukan terutama bentuk garis melintang sehingga menghasilkan sejumlah skala segitiga kecil.

Selain itu, pada betina terdapat bulu cambuk pada pasangan kaki ke-3 dan ke-4 sedangkan pada jantan, bulu cambuk hanya terdapat pada pasangan kaki ke-3.

Siklus hidup

Tungau betina atau nimfa stadium kedua yang secara aktif membuat terowongan di epidermis atau lapisan tanduk.

Pada terowongan tersebut diletakkan 2-3 butir telur setiap hari. Telur menetas dalam 2-4 hari yang kemudian menjadi larva yang berkaki 6.

Dalam 1-2 hari larva berubah menjadi nimfa stadium pertama kemudian berkembang menjadi nimfa stadium kedua, yang berkaki 8.

Nymfa ini menjadi tungau betina muda, yang siap kawin dengan tungau jantan Tungau berkembang menjadi tungau dewasa dalam 2-4 hari.

Untuk menyelesaikan daur hidup dari telur sampai bertelur lagi diperlukan waktu 10-14 hari. Waktu yang diperlukan telur menjadi tungau dewasa kurang lebih 17 hari.

Tungau betina yang tinggal di sebuah kantong ujung terowongan, setelah 4-5 hari setelah kopulasi, akan bertelur lagi sampai berumur lebih kurang 3-4 minggu.

Pengendalian dan Pencegahan

Pencegahannya dengan pakaian, seprei dan sarung bantal harus dicuci dan disetrika dengan baik.  Kasur, bantal, guling paling sedikit 2 kali seminggu, ventilasi rumah diperbaiki agar cahaya matahari dapat masuk.

Preparat sulfur presipitatum 5 –10 % efektif terhadap stadium larva, nimfa dan dewasa tetapi tidak membunuh telur.

Karena itu pengobatan minimal selama 3 hari agar larva yang menetas dari telurnya dapat pula dimatikan oleh obat tersebut.

Gamma benzene heksaklorida efektif untuk semua stadium tetapi tidak dapat digunkan untuk anak dibawah enam tahun karena neurotoksik.

Permetrin dalam bentuk krim 5% efektif untuk semua stadium dan relative aman untuk digunakan pada anak-anak.

Obat lain yang efektif untuk semua stadium adalah benzyl benzoat 20 – 55% dan krotamiton, tetapi obat ini relative mahal.

4. Glossina
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthropoda
  • Kelas: Insecta
  • Ordo: Diptera
  • Family: Glossinidae
  • Genus: Glossina
Inang

Mamalia, reptil dan burung

Peranan vektor

Penyebab Trypanosomiasis pada inang

Morfologi

Panjang 5-15 mm, berwarna kuning sampai coklat gelap, probosis kasar dan terjulur. Pada saat istirahat sayap menutupi abdomen seperti gunting tertutup.

Tidak mempunyai maksila dan mandibula, probosis digunakan untuk menggigit atau mengisap, labium berbentuk letter U .

Siklus hidup

Jantan dan betina pengisap darah. Betina tergolong vivipara. Dan hanya menghasilkan 1 larva sekali. Total larva 8-12. Pematangan tetap di dalam uterus dan panjangnya 8-10mm.

Larva III disimpan di dalam uterus selama 10 hari. Pada stadium ini larva berwarna putih, bersegmen. Larva yang dikeluarkan di tanah akan berkembang dan menjadi pupa yang bentuknya seperti tong. 

5. Cimex hemipterus
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthropoda
  • Kelas: Insecta
  • Ordo: Hemiptera
  • Family: Cimicidae
  • Genus: Cimex
  • Species: Cimex hemipterus
Kutu busuk dikenal sebagai spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya.

Kutu busuk bisa menggigit tanpa disadari korbannya, biasanya ia akan agresif pada malam hari. Ia akan menimbulkan bekas gigitannya yang berupa bentol dan terasa gatal serta panas pada korbannya. 

Serangga parasit ini bisa menimbulkan penyakit ruam-ruam, efek psikologis, dan gejala alergi. Hewan ini beraroma tidak sedap dan sangat menyengat di hidung (Prianto, 1995).

Morfologi
Jenis-Jenis Arthropoda Patogen (Sikilus Hidup, Gejala Klinis, Pencegahan & Pengobatan)
Morfologi cimex dewasa berukuran 4-5,5 mm. bentuk badanya oval, pipih. Bersegmen terdiri atas kepala, thorak dan abdomen, berwarna kuning coklat pada larva dan merah pada imago.

Cimex betina lebih sedikit besar dari pada cimex jantan dan tidak memiliki sayap. Hidupnya pada sela-sela perabot rumah tangga seperti kursi, tempat tidur, juga terdapat pada sela-sela dinding rumah. 

Pada sarang wallet juga ada, hanya bentuk spesiesnya berbeda, pada kandang ayam juga ada kemungkinan merupakan habitatnya.

Penyebaranya sangat luas banyak di daerah tropic (Natadisatra, 2005).

Siklus hidup

Setelah mengisap darah biasanya kutu busuk ini akan bersembunyi di celah-celah biasa ia tinggal selama beberapa hari, kemudian bertelur.

Seekor betina mampu memproduksi sebanyak 150-200 butir telur selama hidupnya, dengan frekuensi bertelur setiap harinya 3-4 butir.

Telurnya berwarna putih krem, panjangnya satu mm dan mempunyai operkulum. Dalam waktu 3-14 hari pada suhu 23०C, telur akan menetas menjadi nimfa.

Nimfa pertama akan berganti kulit menjadi nimfa ke-2, 3, demikian seterusnya sampai nimfa kemudian berganti kulit lagi menjadi instar terakhir.

Banyaknya pergantian kulit berbeda - beda tergantung jenis, makanan dan suhu. Rata -rata antara 5 sampai 6 kali.

Pertumbuhan yang demikian termasuk ke dalam metamorfosis tidak sempurna. Laju perkembangan juga tergantung makanan dan suhu.

Pada suhu yang sesuai, stadium dewasa dicapai dalam waktu 8-13 minggu setelah menetas. Lama hidup (longevity) dewasa panjang yaitu 6 -12 bulan, dan ia dapat bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan.

Pemencaran kutu busuk dari satu tempat ke tempat lainnya ialah melalui baju yang dipakai orang, tas, atau peralatan kandang yang mengandung kutu busuk.

Biasanya yang potensial sebagai sumber pemencaran dan yang bertanggung jawab dalam proses ini ialah kutu busuk betina yang sudah mengandung telur (gravid).

Penyebaran yang meluas dari satu tempat ke tempat lainnya berkaitan dengan mobilitas orang dan sanitasi lingkungan yang buruk (Uppike, 2010).

Pengendalian

Apabila ditemukan adanya kutu busuk di suatu kamar atau tempat tidur dan furnitur lainnya, maka barang - barang tersebut harus diisolasi atau dikeluarkan.

Jangan sekali-kali memindahkannya ke gudang sebelum dibersihkan dan dikendalikan.

Pahami betul sifat - sifat, biologi, dan dari mana kemungkinan datangnya kutu busuk agar hasil pengendaliannya maksimal. Pengendalian tidak harus menggunakan insektisida.

Insektisida digunakan ketika serangan kutu busuk sangat luar biasa dan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dengan cepat.

Ketika harus menggunakan insektisida, gunakan insektisida yang banyak dijual di pasar dengan hati-hati, ikuti aturan yang tertera pada label, dan ulang penggunaanya sampai semua telur yang menetas ikut mati.

Biasanya insektisida hanya membunuh kutu busuk stadium nimfa dan dewasa, sedangkan telurnya cukup tahan, oleh karena itu tunggu sampai menetas, lakukan penyemprotan ulang (Uppike, 2010).
*Sumber : Nitya Wita Utama
Previous
Next Post »